Senin, 30 September 2013

POSYANDU


BENTUK-BENTUK PENDEKATAN DAN PARTISIPASI MASYARAKAT
Bentuk-bentuk pendekatan dan partisipasi masyarakat terdiri atas posyandu, posyandu balita, dan primary health center (PHC)
A.      POSYANDU
Posyandu adalah suatu  forum komunikasi, ahli teknologi dan pelayanan kesehatan masyarakat oleh dan untuk masyarakat yang mempunyai nilai strategi dalam mengembangkan sumber daya manusia sejak dini. Sebagai  pusat kegiatan masyarakat dalam upaya pelayanan kesehatan, keluarga berencana, pusat pelayanan keluarga berencana, serta pos kesehatan yanag dikelola dan diselenggarakan untuk dan oleh masyarakat dengan  dukungan teknis dari petugas kesehatan dalam rangka pencapaian NKKBS.

a.       Tujuan Posyandu
Tujuan pokok dari pelayanan terpadu adalah empercepat penurunan angka kematian ibu dan anak, meningkatkan pelayanan kesehatan ibu untuk menurunkan IMR, mempercepat penerimaan NKKBS, meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan kesehatan, dan kegiatan-kegiatan lain yang menunjang peningkatan kemampuan hidup sehat. Pendekatan dan pemerataan pelayanan kesehatan  kepada  masyarakat dilakukan dalam usaha meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan kepada penduduk berdasarkan letak geografis.

b.      Sasaran Posyandu
Sasaran dalam pelayanan posyandu antara lain: bayi berusia kurang dari 1 tahun, anak balita usia 1 sampai 5 tahun, ibu hamil, ibu menyusui, ibu nifas, serta wanita usia subur.

c.       Kegiatan Posyandu
1.       Lima kegiatan posyandu (panca krida posyandu)
a.       Kesehatan ibu dan anak
b.      Keluarga berencana
c.       Imunisasi
d.      Peningkatan gizi
e.      Penanggulangan diare
2.       Tujuh kegiatan posyandu
a.       Kesehatan ibu dan anak
b.      Keluarga berencana
c.       Imunisasi
d.      Peningkatan gizi
e.      Penanggulangan diare
f.        Sanitasi dasar
g.       Penyediaan obat esensial


d.      Pembentukan posyandu
Posyandu dibentuk dari pos-pos, seperti: pos penimbangan balita, pos imunisasi, pos keluarga berencana desa, dan pos kesehatan.

e.      Persayaratan pembentukan posyandu
Penduduk RW setempat dengan criteria paling sedikit terdapat 100 orang balita, terdiri atas 120 kepala keluarga, disesuaikan dengan kemampuan petugas (bidan desa), jarak antara kelompok rumah, serta jumlah KK dalam satu tempat atau kelompok tidak terlalu jauh.

f.        Alasan pendirian posyandu
Alasan pendirian posyandu adalah sebagai berikut.
1.       Posyandu dapat memberikan pelayanan kesehatan, khususnya dalam upaya pencegahan penyakit dan PPPk sekaligus dengan pelayanan KB.
2.       Posyandu dari masyarakat untuk masyarakat dan oleh masyarakat, sehingga menimbulkan rasa memiliki masyarakat terhadap upaya dalam bidang kesehatan keluarga berencana.

g.       Penyelenggaraan posyandu
1.       Pelaksanaan  kegiatan  adalah anggota masyarakat yang telah dilatih menjadi kader kesehatan setempat dibawah bimbingan puskesmas.
2.       Pengelola posyandu adalah pengurus yang dibentuk oleh ketua RW yang berasal dari kader PKK, tokoh masyarakat formal dan informal, serta kader kesehatan yang ada diwilayah tersebut.

h.      Lokasi atau letak posyandu
Lokasi  posyandu hendaknya ditempat yang mudah didatangi oleh masyarakat, yang ditentukan oleh masyarakat sendiri. Letak posyandi bias merupakan lokasi tersendiri. Bila tidak memungkinkan, dapat dilaksanakan  dirumah penduduk, balai rakyat, po RT/RW, atau pos lainnya.

i.         Pelayanan kesehatan yang dijalankan
Berikut ini pelayanan kesehatan yang terdapat dalam posyandu.
1.       Pemeliharaan kesehatan bayi dan balita
-          Penimbangan bulanan.
-          Pemberian makanan tambahan bagi yang beratnya kurang.
-          Imunisasi bayi 3-14 bulan.
-          Pemberian oralit unutk menanggualangi diare.
-          Pengobatan penyakit sebagai pertolongan pertama.
2.       Pemeliharaan kesehatan ibu hamil, ibu menyusui, dan pasangan usia subur.
-          Pemeriksaan kesehatan umum.
-          Pemeriksaan kehamilan dan nifas.
-          Pelayanan peningkatan gizi melalui pemberian vitamin dan pil penambah darah.
-          Imunisasi TT untuk ibu hamil
-          Penyuluhan kesehatan dan KB.
3.       Pemberian alat kontrasepsi KB.
4.       Pemberian oralit pada ibu yang terkena penyakit diare.
5.       Pengobatan penyakit sebagai pertolongan pertama.
6.       Pertolonhan pertama pada kecelakaan.

B.      POSYANDU BALITA
Tugas-tugas kader posyandu dalam rangka menyelenggarakan posyandu dibagi tiga kelompok, yaitu:
1.       Tugas sebelum hari buka posyandu atau disebut juga tugas pada hari H- posyandu.
2.       Tugas pada hari buka posyandu atau disebut juga tugas pada hari H posyandu.
3.       Tugas setelah hari buka posyandu atau disebut juga pada H+ posyandu.
Berikut ini tugas kader pada hari H- atau saat persiapan hari buka posyandu.
1.       Menyiapkan alat dan bahan, meliputi: alat penimbangan bayi, KMS, alat peraga, alat pengukur LLA, obat-obatan yang dibutuhkan (pil besi, vitamin A, oralit), dan bahan materi penyuluhan.
2.       Mengundang dan menggerakan masyarakat, yaitu member tahu ibu-ibu untuk datang ke posyandu.
3.       Menghubungi  pokja posyandu, yaitu menyampaikan rencana kegiatan  kepada kantor desa dan meminta mereka untuk memastikan apakah petugas sector bias hadir pada buka posyandu.
4.       Melaksanakan pembagian tugas, yaitu menentukan pembagian tugas di antara kader posyandu, baik untuk persiapan maupun pelaksanaan kegiatan.
Berikut ini tugas kader pada hari buka posyandu dengan tugas pelayanan system lima meja.
Meja I
1.       Pendaftaran, mendaftar bayi/balita, ibu hamil, menyusui, dan pasangan usia subur.
2.       Pencatatan bayi, balita, ibu hamil, ibu menyusui, dan pasangan usia subur, menuliskan nama balita pada KMS dan secarik kertas yang diselipkan pada KMS serta menuliskan nama ibu hamil apda formulir atau register ibu hamil.
Meja II
penimbangan balita, ibu hamil, dan mencatat hasil penimbangan pada secarik kertas yang akan dipindahkan pada KMS.
Meja III
Pengisisan KMS (kartu menuju sehat) kemudian memindahkan catatan hasil penimbangan balita dari secarik kertas ke dalam KMS.

Meja IV
1.       Diketahui berat badan anak yang naik atau tidak naik, ibu hamil dengan risiko tinggi, dan PUS yang belum mengikuti KB.
2.       Penyuluhan kesehatan, menjelaskan data KMS atau keadaaan anak berdasarkan data kenaikan berat badan yang digambarkan dalam grafik KMS kepada ibu bayi/balita dan memberikan penyuluhan kepada setiap ibu dengan mengacu pada data KMS anaknya atau hasil pengamatan mengenai masalah yang dialami.
3.       Pelayanan PMT, oralit, vitamin A tablet zat besi, pil ulang, dan kondom.
Member rujukan kepuskesmas. Apabila diberikan untuk balita, ibu hamil dan menyusui berikut ini:
-          Balita: apabila berat badannya dibawah garis merah (BMG) pada KMS, dua kali pemeriksaan berturut-turut berat badannya tidak naik, terlihat sakit (lesu-kurus, busung lapar, diare, rabun mata).
-          Ibu hamil atau menyusui: apabila keadaanya kurus, pucat, bengkak, atau gondokan.
-          Orang sakit
Memberikan pelayanan gizi dan kesehatan dasar oleh kader posyandu, misalnya member pil darah (zat besi), vitamin A, oralit, dan sebagainya.
Meja V
Meja V  merupakan pelayanan sector yang biasanya dilakukan oleh petugas kesehatan, PLKB, PPL, dan lain-lain. Pelayanan yang diberikan adalah sebagai berikut.
1.       Pemberian imunisasi, pemberian pil penambah darah (pil besi), vitamin A, dan obat lainnya.
2.       Pemerikasaan kehamilan.
3.       Pemeriksaan kesehatan dan pengobatan.
4.       Pelayanan kontrasepsi  IUD dan suntikan.
Untuk meja I-IV dilaksanakan oleh kader kesehatan. Sedangkan untuk meja V dilaksanakanoleh petugas kesehatan diantaranya; dokter, bidan, perawat, juru imunisasi, dan sebagainya.
Berikut ini tugas kader setelah hari buka posyandu.
1.       Memindahkan catatan-catatan dalam kartu menuju sehat kedalam buku register atau buku bantu kader.
2.       Menilai (mengevaluasi) hasil kegiatan dan merencanakan kegiatan hari posyandu pada bulan berikutnya.
3.       Kegiatan diskusi kelompok (penyuluhan kelompok) bersama ibu-ibu yang lokasi rumahnya berdekatan (kelompok dasawisma).
4.       Kegiatan kunjungan rumah (penyuluhan perorangan), sekaligus untuk tindak lanjut dan mengajak ibu-ibu datang keposyandu pada kegiatan bulan berikutnya.
Prinsip Dasar
Prinsip dasar posyandu diantaranya adalah sebagai berikut.
1.       Posyandu merupakan usaha masyarakat dimana terdapat perpaduan antara pelayanan profesianal dan non-profesiaonal (oleh masyarakat).
2.       Adanya kerjasama lintas program yang baik (KIA,KB, gizi, imunisasi, penanggualangan diare) maupun llntas sektoral ( =departemen kesehatan RI dan BKKBN).
3.       Kelembagaan masyarakat (pos desa, kelompok atau pos timbang, pos imunisasi, pos kesehatan, dan lain-lain).
4.       Mempunyai sasaran penduudk yang sama (bayi 0-1 tahun, anak balita 1-4 tahun, ibu hamil, PUS).
5.       Pendekata n yang digunakan adalah pengembangan dan pembangunan kesehatan masyarakat desa (PKMD) atau primary health center (PHC).
Persiapan Sosial
Persiapan masyarakat sebagai pengelola dan pelaksana posyandu seerta masyarakat umum sebagai pemakai jasa posyandu.
Langkah-Langkah Pembentukan
Langkah-langkah pembentukan posyandu balita adalah sebagai berikut.
1.       Perumusan masalah
a.       Survey mawas diri.
b.      Penyajian hasil survey (loka karya mini).
2.       Perencanaan pemecahan maslah
a.       Kaderisasi sebagai pelaksana posyandu.
b.      Pembetukan pengurus sebagai pengelola posyandu.
c.       Menyusun rencana kegiaatan posyandu.
3.       Pelaksanaan kegiatan
a.       Kegiatan posyandu sekali sebulan atau lebih.
b.      Pengumpulan dana sehat.
c.       Pencatat dan laporan kegiatan posyandu.
4.       Evaluasi
a.       Evaluasi hasil kegiatan yang sedang berjalan.
b.      Evaluasi hasil kegiatan sesuai dengan batas waktu yang telah diterapkan.
5.       Kesimpulan
a.       Posyandu merupakan kegiatan yang telah dilakukaan oleh masyarakat dalam bentuk pos timbangan, PMT (pemberian makanan tambahan), pos kesehatan, dan sebagainya. Adanya motivasi baru merupakan bentuk operasional dari pendekatan strategi keterpaduan 5 program atau KB kesehatan guna mempercepat penurunan angka kematian bayi, balita, penurunan angka fertilitas dalam rangka mempercepat terwujudnya norma keluarga kecil bahagia sejahtera (NKKBS).
b.      Peranan lintas sektoral dan linas program berpengaruh dalam keberhasilan posyandu.
c.       Peningkatan peran secara aktif masyarakat akan meningkatkan daya  guna dan hasil guna posyandu.
d.      Alih teknologi dan sewakelola masyarakat merupakan aspek dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Pelaksanaan
Pelaksanaan posyandu melibatkan petugas dari puskesmas, petugas BKKBN sebagai penyelenggara pelayanan profesianal, serta peran serta masyarakat secara aktif dan poitif sebagia penyelenggara pelayanan non-profesiaonal terpadu dalam rangka alih teknologi dan swakelola masyarakat.
Pelaksanaan  ditnjua dari segi petugas posyandu adalah sebagai berikut.
1.       Pendekatan yang digunakan adalah pembangunan dan pembinaan PKMD.
2.       Perencanaan terpadu tingkat puskesmas (micro palnning), lokakarya mini.
3.       Pelaksanaan melalui system lima meja dan alih teknologi.
Dari segi masyarakat:
-          Kegiatan swadaya masyarakat yang dihrapkan dengan adanya kader kesehatan.
-          Perencanaan melalui musyawarah masyarakat desa.
-          Pelaksanaan melalui system lima meja.
Dukungan lintas  sektoral sangat diharapkan mulai dari tahap persiapan, perencanaan, bahkan saat evaluasi/ penilaian dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, baik dalam segi motivasi maupun teknis dari masing-masing sector.
                Posyandu pasca-otonomi daerah menjadi mati suri. Hal ini disebabkan oleh banyaknya daerah yang beranggapan bahwa posyandu bukanlah sector strategis. Akibatnya, pemerintah daerah setempat tidak menjadikan posyandu sebagai program  prioritas di bidang kesehatan dan tidak mengalokasikan anggaran yang cukup. Merebaknya kasusu balita bergizi buruk pada tahun 2005 berujung pada revitalisasi posyandu. Di Jawa Timur, mulai tahun 2006 menjadikan posyandu sebagai program utama, bahka telah menganggarkan alokasi dana APBD cukup besar. Danaa tersebut difokuskan pada pemberian uang insentif bagi kader posyandu, pemberian makanan tambahan (PMT) bagi balita, dan melengkapi sarana prasarana diposyandu seperti alat timbangan dan lainnya.

Daftar pustaka.
Mubarak Wahid Iqbal dan Cahyatin Nurul. 2009. Ilmu Kesehatan Masyarakat: Teori Dan Aplikasi. Jakarta: Salemba Medika.

1 komentar: